Kesenjangan ekonomi di Indonesia tidak selalu terlihat dalam bentuk angka pendapatan atau jumlah uang yang tersimpan di rekening. Fenomena tersebut dapat dilihat dari sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti rumah, tanah, kendaraan, makanan, hingga cara masyarakat menggunakan ruang publik. Di satu sisi, terdapat orang yang mampu membeli rumah dalam jumlah lebih dari satu, menguasai tanah dalam area luas, memiliki beberapa kendaraan, serta membeli berbagai kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Di sisi lain, masih terdapat keluarga yang bertahun-tahun tinggal di rumah kontrakan, berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan, dan bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Kondisi tersebut memunculkan sebuah pertanyaan sederhana tetapi sangat mendasar: mengapa sumber daya yang tersedia seolah-olah semakin banyak dikuasai oleh sebagian kecil masyarakat, sementara sebagian besar lainnya harus berjuang mendapatkan kebutuhan paling dasar? ...
Persoalan bencana alam di Indonesia tidak pernah sesederhana hujan deras, banjir, longsor, kebakaran hutan, kekeringan, atau siklon yang datang secara berkala. Ketika sebuah bencana terjadi, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor sekaligus, mulai dari kesehatan masyarakat, pendidikan, transportasi, pekerjaan, infrastruktur, hingga kondisi ekonomi daerah. Karena itu, kemampuan negara menyediakan anggaran penanggulangan bencana menjadi salah satu bagian penting dalam memastikan masyarakat memiliki perlindungan ketika menghadapi situasi darurat. Sorotan diarahkan kepada kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dan konsekuensinya terhadap penanganan bencana. Hal tersebut mempertanyakan mengapa anggaran untuk menghadapi bencana justru mengalami pemangkasan ketika berbagai wilayah Indonesia masih menghadapi ancaman banjir, longsor, kebakaran hutan, kekeringan, dan kerusakan lingkungan. Kritik tersebut kemudian diperluas kepada persoalan transfer ke daerah, pembangunan infrastruktur, keru...


