Perbincangan mengenai dunia pesantren kembali mendapatkan perhatian luas setelah muncul kasus dugaan kekerasan terhadap seorang mantan santriwati di Sleman. Pada waktu yang hampir bersamaan, ruang publik juga ramai membahas buku Islam ala Presiden. Dua persoalan tersebut sebenarnya berasal dari konteks yang berbeda, tetapi keduanya dibaca melalui satu tema besar, yakni persoalan akuntabilitas lembaga, relasi kuasa, serta bagaimana sebuah organisasi besar merespons kontroversi yang menyentuh lingkungan dan tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengannya. Pembahasan semacam ini menarik karena pesantren memiliki posisi penting dalam kehidupan pendidikan dan keagamaan masyarakat Indonesia. Di sisi lain, keberadaan organisasi masyarakat Islam dengan jaringan yang luas membuat hubungan antara pesantren, pengurus organisasi, tokoh agama, alumni, serta masyarakat tidak selalu sederhana. Karena itu, ketika muncul persoalan serius, pertanyaan mengenai siapa yang memiliki kewenangan, siapa yang h...
Di era media sosial, kehidupan keluarga pejabat publik tidak lagi sepenuhnya menjadi urusan pribadi. Setiap unggahan dapat dilihat ribuan hingga jutaan orang hanya dalam waktu singkat. Foto liburan, kendaraan, pakaian, tempat menginap, hingga perjalanan menggunakan fasilitas tertentu dapat memunculkan persepsi publik yang jauh lebih besar daripada maksud awal pembuat unggahan tersebut. Karena itu, persoalan mengenai etika keluarga pejabat di media sosial menjadi semakin relevan untuk dibicarakan, terutama ketika sebuah negara sedang mengalami ketegangan sosial dan masyarakat sedang sangat sensitif terhadap persoalan ekonomi, hukum, serta ketimpangan. Sebuah gaya hidup yang bagi sebagian orang dianggap biasa dapat terlihat sangat berbeda ketika ditampilkan oleh keluarga yang mempunyai hubungan dekat dengan pejabat negara. Perbedaannya bukan semata-mata terletak pada harga barang atau fasilitas yang digunakan, melainkan pada konteks sosial yang menyertainya. Ketika masyarakat sedang meng...


