Perubahan teknologi dalam beberapa tahun terakhir membawa dunia pendidikan memasuki situasi yang belum pernah dihadapi oleh generasi guru sebelumnya. Handphone, misalnya, bukan lagi sekadar alat komunikasi. Perangkat kecil tersebut telah berubah menjadi pusat hiburan, sumber informasi, ruang interaksi sosial, tempat mengekspresikan diri, sekaligus pintu masuk menuju berbagai macam konten yang dapat memengaruhi cara anak memandang kehidupan. Karena itu, dampak penggunaan handphone pada siswa tidak cukup dibicarakan hanya dari sisi manfaat atau larangan membawa perangkat ke sekolah. Persoalannya jauh lebih luas karena berkaitan dengan kemampuan berkonsentrasi, pola pikir, kesehatan sosial, kebiasaan belajar, hingga cara remaja membentuk gambaran tentang dirinya sendiri. Terdapat sejumlah kasus siswa yang terlibat dalam penyebaran konten pribadi yang tidak pantas melalui media sosial. Salah satu kasus bahkan berkaitan dengan seorang pelajar yang mengalami tekanan berat setelah video priba...
Gelar honoris causa kembali menjadi bahan perbincangan ketika seorang tokoh terkenal memperoleh penghargaan akademik dari sebuah perguruan tinggi. Perdebatan mengenai gelar doktor kehormatan di Indonesia sebenarnya bukan perkara baru. Jauh sebelum kontroversi terbaru mencuat, kalangan akademisi telah lama mempertanyakan bagaimana sebuah gelar kehormatan seharusnya diberikan, siapa yang benar-benar layak menerimanya, serta batas antara penghargaan atas kontribusi dengan kepentingan nonakademik. Secara sederhana, honoris causa diberikan kepada seseorang yang tidak menempuh jenjang akademik sebagaimana mahasiswa pada umumnya, tetapi dinilai memiliki kontribusi penting dalam bidang tertentu. Seseorang dapat dianggap pantas memperoleh gelar tersebut karena karya, pemikiran, inovasi, kepemimpinan, atau kontribusinya terhadap masyarakat dinilai memberikan dampak yang signifikan. Dengan demikian, gelar ini semestinya bukan sekadar tanda bahwa seseorang terkenal, kaya, memiliki jabatan, atau me...