Di tengah derasnya arus media sosial, tidak semua figur publik mampu bertahan ketika dihujani kritik, fitnah, hingga tekanan psikologis berkepanjangan. Fenomena ini semakin terasa ketika seseorang membawa gagasan yang dianggap berbeda dari arus utama. Tidak sedikit tokoh dakwah digital Indonesia yang akhirnya memilih menghilang, mengurangi aktivitas, atau bahkan berhenti tampil karena tekanan publik yang terlalu besar. Percakapan mendalam memperlihatkan sisi lain dari dunia dakwah modern yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka. Di balik jumlah pengikut yang besar dan popularitas di internet, ternyata ada fase berat berupa hujatan, fitnah, pengucilan, hingga ancaman yang menguras mental seseorang secara perlahan. Kisah Mental Dakwah Digital Indonesia yang Tidak Banyak Orang Tahu Popularitas di media sosial sering dianggap identik dengan kenyamanan hidup. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam obrolan tersebut, terungkap bagaimana tekanan besar justru datang ketika s...
Perdebatan mengenai pagar laut di pesisir Tangerang berubah menjadi isu nasional setelah berbagai nama besar, perusahaan raksasa, hingga dugaan keterlibatan elite bisnis mulai disebut secara terbuka. Polemik ini bukan lagi sekadar soal bambu yang tertancap sepanjang laut, melainkan menyangkut dugaan pelanggaran tata ruang laut, konflik kepentingan investasi, hingga nasib nelayan pesisir utara Jawa yang semakin terdesak oleh proyek reklamasi modern. Banyak masyarakat mulai mempertanyakan bagaimana sebuah pagar laut sepanjang puluhan kilometer bisa berdiri tanpa diketahui aparat, pemerintah daerah, maupun kementerian terkait selama berbulan-bulan. Dugaan Reklamasi dan Polemik Pagar Laut di Pantai Utara Pembahasan mengenai proyek pagar laut Tangerang semakin ramai ketika sejumlah aktivis lingkungan, organisasi nelayan, serta pegiat agraria mulai mengaitkan kawasan tersebut dengan dugaan perluasan proyek New Jakarta. Dalam berbagai diskusi publik, pagar bambu yang awalnya disebut sebagai p...