Pembicaraan mengenai masyarakat Bali sering kali berhenti pada gambaran tentang keramahan, toleransi, budaya yang kuat, serta kehidupan pariwisata yang terbuka terhadap pendatang. Namun, di balik citra tersebut terdapat persoalan sosial yang jauh lebih kompleks. Ketika muncul pengalaman wisatawan yang merasa diperlakukan kurang ramah, cerita mengenai diskriminasi, atau tuduhan bahwa masyarakat tertentu bersikap eksklusif, pembahasannya sering langsung berubah menjadi perdebatan mengenai rasisme. Padahal, untuk memahami mengapa sentimen semacam itu dapat muncul, persoalannya tidak cukup dilihat dari perilaku individu. Ada sejarah, pengalaman sebagai kelompok minoritas, trauma kekerasan, perubahan sosial, persoalan identitas keagamaan, serta pengaruh pemberitaan yang ikut membentuk cara suatu komunitas memandang kelompok lain. Demikian pula, komentar warganet tidak dapat diperlakukan sebagai penelitian sosial yang mewakili keseluruhan populasi. Meski demikian, sentimen yang berulang teta...
Masuknya seorang tokoh yang selama bertahun-tahun dikenal kritis terhadap pemerintah ke dalam lingkungan kekuasaan hampir selalu memunculkan perdebatan. Dalam politik Indonesia, perubahan posisi semacam itu dapat dilihat dari berbagai sudut. Ada yang menganggapnya sebagai kesempatan untuk berkontribusi secara langsung terhadap negara, sementara pihak lain melihatnya sebagai ujian terhadap konsistensi prinsip yang selama ini dibangun di hadapan publik. Perdebatan sebenarnya tidak harus dimulai dari pertanyaan apakah seorang pengamat boleh masuk pemerintahan. Tentu saja boleh. Seorang akademisi, aktivis, pengusaha, tokoh masyarakat, maupun pengamat politik memiliki hak untuk menerima atau menolak posisi tertentu di pemerintahan. Bahkan, keterlibatan seseorang yang sebelumnya berada di luar kekuasaan dapat menghasilkan perspektif baru yang bermanfaat. Hal yang jauh lebih menarik untuk dibahas adalah persoalan konsistensi. Ketika seseorang sebelumnya membangun identitas sebagai pengkritik ...


