Ketika sebuah bangsa sedang berada dalam keadaan kacau, penuh ketidakpastian, mengalami tekanan ekonomi, konflik politik, atau bahkan terancam perpecahan, muncul pertanyaan penting: apakah kondisi tersebut merupakan tanda bahwa sebuah negara sedang menuju kehancuran, atau justru menjadi bagian dari proses menuju perubahan besar? Sejarah menunjukkan bahwa jawabannya tidak selalu sederhana. Ada bangsa yang benar-benar runtuh akibat krisis, tetapi ada pula masyarakat yang justru menemukan arah baru setelah melewati masa penuh gejolak. Cara pandang semacam inilah yang menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami pemikiran Tan Malaka tentang Republik Indonesia. Pada masa Hindia Belanda, keadaan masyarakat pribumi memang jauh dari gambaran sebuah negara merdeka. Ketimpangan, penindasan kolonial, keterbatasan pendidikan, serta dominasi kekuasaan asing membuat masa depan bangsa tampak suram. Namun, bagi Tan Malaka, situasi tersebut tidak semata-mata harus dipandang sebagai akhir dari sebuah p...
Pergantian pejabat di lingkungan pemerintahan hampir selalu diikuti pertanyaan yang sama: apakah kebijakannya juga akan berubah? Dalam dunia pendidikan, pertanyaan tersebut menjadi lebih sensitif karena perubahan kebijakan tidak hanya menyangkut dokumen atau peraturan, tetapi juga memengaruhi guru, siswa, sekolah, orang tua, hingga proses pembelajaran selama bertahun-tahun. Salah satu isu yang kembali muncul adalah kemungkinan perubahan Kurikulum Merdeka serta wacana menghidupkan kembali Ujian Nasional (UN) sebagai bagian dari evaluasi pendidikan. Perdebatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kritik terhadap kebijakan pendidikan pada periode sebelumnya. Ada pihak yang menilai Kurikulum Merdeka terlalu ideal dan belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi pendidikan Indonesia. Di sisi lain, perubahan kurikulum secara terus-menerus juga menimbulkan persoalan tersendiri karena sekolah membutuhkan waktu untuk memahami, menerapkan, mengevaluasi, dan menyempurnakan sebuah sistem sebelum berpind...