Surabaya selama bertahun-tahun dikenal sebagai pusat ekonomi terbesar di Jawa Timur. Kota ini dipenuhi pusat perbelanjaan raksasa, kawasan industri modern, jaringan bisnis berskala nasional, hingga komunitas pengusaha yang memiliki pengaruh besar terhadap perputaran uang di Indonesia. Namun, di sisi lain terdapat ironi yang terus menjadi bahan pembicaraan masyarakat, yaitu kondisi Madura yang justru masih identik dengan kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, serta pembangunan yang tertinggal dibanding wilayah sekitarnya. Topik tentang kesenjangan ekonomi Surabaya dan Madura setelah Suramadu kemudian memunculkan banyak perdebatan sosial. Ada yang melihatnya sebagai masalah kebijakan pemerintah, ada yang menganggapnya berkaitan dengan sejarah pembangunan, dan ada pula yang menghubungkannya dengan budaya masyarakat yang berkembang di masing-masing wilayah. Di sinilah muncul stereotipe yang cukup sensitif tetapi terus dibicarakan secara terbuka di media sosial maupun forum publik. Kenapa...
Di balik kemudahan layanan transportasi online yang setiap hari dipakai jutaan masyarakat Indonesia, ada cerita panjang mengenai kehidupan driver ojol yang jarang benar-benar dipahami publik. Banyak orang mengira persoalan utama ojek online hanya soal besaran potongan aplikasi. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit dibanding sekadar angka 10% atau 20%. Beberapa waktu terakhir, isu kesejahteraan driver ojol kembali ramai dibahas setelah muncul tuntutan terkait pembagian hasil dan kondisi kerja di lapangan. Namun di tengah berbagai pernyataan resmi, masih banyak fakta yang justru memperlihatkan bahwa sistem kerja ojol di Indonesia menyimpan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Sistem Pembagian Pendapatan Driver Ojol yang Masih Membingungkan Banyak pengguna transportasi online mengira bahwa ketika membayar ongkos perjalanan sebesar Rp15.000, maka sebagian besar uang tersebut otomatis masuk ke kantong pengemudi. Faktanya, perhitungan di lapangan tidak ses...